Beranda Serba Serbi Perjumpaan Perempuan di Kampus STIT Sunan Giri Bima

Perjumpaan Perempuan di Kampus STIT Sunan Giri Bima

Kegiatan Seminar Perempuan di Kampus STIT Bima.

Oleh: Muhamad Yunus

Tulisan ini saya buat sehari setelah kegiatan Seminar. Saya tak memiliki kesanggupan menguraikan hal yang sama dengan yang saya ucapkan di ruang seminar. Saya juga menyesuaikan dengan kebutuhan saja. Memotret beberapa sisi dan penggalan narasi yang sempat diucupakan di forum dan sempat pula saya endapkan dalam batin kesadaran.

Acara berlangsung 27 Februari 2020. Pagi saya menuju kampus, mendatangi aula. Saya agak terlambat. Tetiba saya di aula, acara pembukaan sedang berjalan. Saya memilih masuk lewat pintu belakang, dan bertepatan dengan sambutan Dr. Syukri Abubakar. Saya ingin memilih duduk bersama para peserta, namun pak Dr. Syukri langsung mempersilahkan untuk mengambil posisi duduk di depan. Saya salami satu per satu narasumber yang telah lebih awal duduk di depan.

Usai acara pembukaan, yang ketika itu di buka langsung oleh ketua STIT SGB. Moderator mengambil alih forum seminar. Sifaturrahmah Syahrir namanya. Ia mengawali dan membacakan biodata narasumber diantaranya; H. Muhammad Adnin Wakil Ketua Satu MUI kota Bima, Lily Marfuatun, SH., MH Program Officer La Rimpu, dan saya sendiri mewakili Rumah Cita. Kami bertiga disuguhi tema yang berbeda. Pak Adnin diminta untuk membahas Kedudukan Perempuan dalam Islam, Mbak lily membahas Tantangan dan Peluang perempuan di era melenial, saya diberi tema peran perempuan dalah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Rasanya cukup berat membahas topik yang diberi ke saya kali ini. Membayang tahun 2012 silam, ketika diberi tema makalah yang panjang dan melelahkan mencari bahan-bahan rujukan saat mengikuti Advance Training Tingkat Nasional di Asrama Haji Makassar. Dimensi kultural perjuangan perempuan Indonesia dan sketsa makro protipe perempuan Nusantara, demikianlah tema makalah yang saya sebut panjang dan melelahkan itu. Meski begitu, Saya sangat bersyukur pernah ditempa dahulu dengan ragam gendre percakapan, termasuk soal perempuan.

Saya menarasikan peran perempuan dengan rasa lelaki, pastinya. Sebab saya bukanlah perempuan dan tak akan pernah memiliki kesanggupan menjadi perempuan. Saya mengawali percakapan dengan mengungkapkan secuil tentang konsepsi Indonseia sebagai negara bangsa (nation-state). Bahwa Indonesia dibangun oleh Bangsa, oleh suku atau oleh kaki kaki bangsa. Tentang negara, saya ucapkan meliputi batas-batas wilayah (teritorial), soal kekuasaan serta struktur kekuasaan. Sementara Bangsa mengandaikan hidup yang multi-etnik, suku, budaya, agama dan kepercayaan, serta bahasa yang beraneka ragam.

Dari sini saya mulai meminjam pendakuan Ishak tentang perbedaan dan persatuan. Sungguh indah persatuan karena adanya perbedaan, sungguh indah perbedaan karena adanya persatuan. Perbdaan itu given for granted, perbedaan itu pemberian Tuhan, karenanya mesti kita rayakan dengan sikap saling berterima. Belajar untuk menumbuhkan kesadaran saling berterima, tidak sekali jadi tapi mesti berlangsung secara terus menerus.

Saya juga meminjam ulasan peran perempuan hasil penelitian Anthony Reid yang ditulisnga dengan pendekatan sejarah total. Saya ucapkan dalam bahasa dan gaya saya sendiri, bahwa sejak berabad-abad lampau perempuan telah mengisi ruang peran dalam berbagai bidang kehidupan, seperti tata niaga, tata negara, dibidang kesusastran, seni, peperangan dan kemiliteran, diplomasi, pendidikan, jurnalistik serta ragam peran lainnya.

Saya berupaya memungut beberapa peristiwa dari ingatan masa lalu. Saya mulai menyebut nama perempuan dari sabang, yakni di Aceh Dar Al-salam saya sebut satu nama perempuan yang bernah mempin perang melawan Cornelis de Houtman, ya dia adalah laksamana Malahayati, seorang panglima perang angkatan laut yang sempat diabadikan Iwan Fals dalam lagunya berjudul Malahayati. Saya beranjak ke sumatera, menarasikan serorang pribadi jenius yang dipercayakan untuk menemani John Anderson yang hendak memotret ragam kebudayaan sumetera.

Saya ajak peserta ke Jawa, saya sebut nama-nama yang asing bagi mereka, seperti seseorang yang pernah mengambil peran dibidang bina negara, yakni Ratu Kalinyamat. Saya juga memperkenalkan Sorang pendidik, sultanah, sekaligus diplomat hebat yang di buang ke Sailon-Srilangka bersama anaknya yang bernama Amas Madina atau Usman bergelar Batara Gowa II. Dia adalah Perempuan istimewa mbojo bernama Kumala atau juga dikenal dengan Kumalatsyah. Saya sempat sebut pula seorang perempuan yang memiliki kepandaian dalam banyak bahasa yang dikuasai serta memimpin kerajaan tanete selama kurun waktu 55 tahun, bernama Siti Aisyah We Tenri Ole. Saya pun ke pulau kalimatan hingga irian jaya – merauke. Untuk hal ini tak akan saya ulas utuh dalam catatan ini.

Saya juga sempat meminjam keterangan Sutan Taqdir Alisyahbana tentang budaya patriaki dan matriaki. Saya mengutarakan kedudukan manusia yang setara. Kesetaraan itu adalah dengan mengandaikan diri sebagai subjek, diri yang memiliki hati yang sama. Hubungan lelaki dan perempuan adalah hubungan subjek dengan subjek. Sedangankan hubungan manusia dengan alam adalah hubungan subjek dengan objek. Sementara hubungan manusia dengan Tuhan adalah hubungan subjek dengan SUBJEK. Memposisikan perempuan atau orang lain sebagai objek adalah tindakan diskriminatif. Pangkat dan jabatan hanyalah pernak pernik. Sebab pangkat dan jabatan tidak akan memberi pengaruh terhadap nilai dan derajat kemanusiaan.

Pun ketika hilangnya pangkat dan jabatan pada setiap orang, tidak akan menghilangkan subjek kemanusiaanya. Derajat dan martabat kemanusiaan tak runtuh hanya kerena kehilangan pangkat dan jabatan. Sebab pangkat dan jabatan hanyalah objek yang nilainya tidak akan mungkin lebih tinggi dari subjek. Sekalipun memiliki jabatan tinggi, memperlakukan orang lain harus dengan mengandaikan hubungan subjek dengan subjek, bukan sebaliknya. Karena jika hanya karena pangkat dan jabatan yang mendasari dan memposisikan diri sebagai subjek dan orang miskin yang sedang dijumpai diposisikan sebagai objek maka pada saat itu ada upaya merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan atau sedang berada pada situasi berhenti menjadi subjek/manusia (diskontinuitas kemanusiaan).

Dari peserta seminar saya dapati dua hal yang dikemukakan dan ditujukan ke saya. Pertama tentang emansipasi yang menandai adanya kesetaraan dan kebebasan memilih peran perempuan (domesti dan publik), tapi oleh pihak keluarga, perempuan tidak memberi ruang untuk tumbuh setara, yang hanya khendaki adalah perempuan berada di ruang domestik, disisi lain perempuan cenderung mengedepankan perasan dalam mengambil keputusan. Bagaimana untuk bisa menjawab tantangan ini? Yang kedua, bagaimana kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam peradaban?

Saya sarankan untuk menjadi perempuan yang cerdas, perempuan seutuhnya, jawablah dengan argumentasi yang berlandaskan pada banyak pendekatan, diantaranya dengan mengambil dalil-dalil dalam Al-Qur’an, yang kedua bisa lewat pendekatan sejarah dan beberapa pendekatan lainnya. Tentang perasaan, justru itu adalah kekuatan, kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan. kedalaman rasa dalam diri setiap perempuan harus bertautan dengan hati. Sebab hati adalah pusat kesetaran kemanusiaan bermula. Dan yang menarik adalah perempuan memiliki rahim yang tidak satu lelaki pun di dunia ini yang memilikinya. Tuhan itu disebut Ar-Rahim Maha kasih, sedang perempuan hidup dengan rahimnya. perempuan hidup dengan penuh kasih, ajarannya yang sejati adalah ajaran kasih sayang, ajaran cinta yang membatin.

Di era yang kian maju, dengan segala kemudahan dan kecepatan berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi, harusnya membuat kita menjadi lebih manusiawi, bukan teralienasi dengan diri dan kerabat yang sedang kita jumpai. Sebab perjumpaan adalah institusi pembelajaran dimana hati akan biasa saling bertautan satu sama lain. Sehingga menyoal tentang kedudukan lelaki dan perempuan, sebenarnya sama saja sebagai manusia, sebagai anak cucu adam yang memiliki hati, dengan segala kemuliaan dan kelebihan yang dianugerakan kepada keduanya.

Bahwa lelaki dan perempuan berbeda secara struktur fisiologis, berbeda jenis kelamin, itu adalah kodrat. Perbedaan dan kemajemukan itu pemberian yang harus di terima. Keberterimaan atas pemberian itu, membimbing pada kedewasaan bersikap terhadap diri sendiri dan orang lain. Yang menjadi masalah adalah ketika adanya upaya melakukan pembedaan. pembedaan itu prilaku diskriminatif, tidak adil. Yang perlu dilakukan oleh kita adalah menerima perbedaan dan kemajemukan serta merayakannya dalam bingkai persatuan dan keutuhan.

Perempuan adalah arsitek kehidupan. Dari Rahimnya, Perempuan telah banyak mengandung dan melahirkan anak-anak genius yang menjadi arsitek peradaban. Peradaban yang tangguh, kokoh dan bertahan lama adalah peradaban yang dibangun oleh arsitek yang memiliki keluhuran, kejujuran, ketulusan, keikhlasan, kesederhanaan. Peradaban yang dibangun atas dasar kebohongan, ketamakan, kesombongan dan keserakahan oleh sang arsitek akan membawa pada runtuhnya peradaban itu hanya dalam waktu yang sebentar saja. telah banyak peristiwa alam yang terjadi, seperti tsunami di aceh pada tahun 2004 telah melenyapkan rumah dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, bahkan kampung-kampung pun demikian, namun masih ada masjid yang berdiri kokoh. kenapa demikian? Atau pada peristiwa gempa di donggala dan kota Palu, hal yang sama juga terjadi. Saya kira hal itu, masjid-masjid berdiri kokoh oleh karena kekuatan keluhuran, kejujuran, keikhlasan, kesederhanaan sang arisiteknya. Ya peradaban itu dibangun diatas bahan dasar yang murni, yakni taqwa.

Benar bahwa perkembangan dan kemajuan peradaban adalah berkat sumbangan ilmu pengetahuan. Ilmu eksakta telah membimbing manusia mengembangkan teknologi, dunia digitat mernai kita. Obat-obatan medis itu semua sumbangan ilmu eksakta. Selain itu ada pula sumbangan dari ilmu sosial dan ilmu humaniora. Ilmu-ilmu itu lahir berkat proses hubungan dialektis antara manusia dengan alam, qalam, dan manusia dengan sesamanya. Diatas itu semua adalah berkat hubungan manusia dengan Tuhan.

Maka yang sangat mendasar dalam membangun peradaban adalah kepercayaan kepada Tuhan (relasi Subjek-SUBJEK). Kepercayaan yang benar melembaga dalam tradisi dan tumbuh dalam kebudayaan. Sebagai Arsitek peradaban, perempuan sudah harus menyiapkan diri untuk menjadi pribadi yang cedas, genius disertai keluhuran diri. Perempuan mesti membangun rumah peradaban yang didalamnya bersemayam cinta, kasih sayang, kebenaran, kejujuran, ketulusan, keikhlasan, keceriaan, kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan. Perempuan Mbojo mesti mewakafkan rahimnya untuk mengandung anak-anak peradaban, melahirkan anak-anak genius yang memiliki segenap keluhuran diri sebagai arsitek peradaban bangsa dan negara Indonesia.

Sebelum menutup seminar, moderator membacakan penggalan ulasan narasumbur. Saya hanya memetik penggalan terakhir. Perbedaan hanyalah penyempurnaan khazanah, ia modal untuk menjaga keutuhan, menjaga persatuan. Indonesia adalah taman sari peradaban, mari terus jaga bersama keberagaman yang ada, dengan cinta, kasih dan sayang yang tidak hilang, dengan saling menerima, menghormati, menghargai sebagai khalifah penjaga bumi Tuhan dengan kejujuran dan keluhuran budi, tanpa mencaci, tanpa memaki.

Untuk menutup catatan ini, Saya berterima kasih atas ruang perjumpaan sederhana itu. Semoga kebaikan yang kita tanam akan tumbuh merimbun dan berbuah. Kelak ditanam kembali hingga kebaikan akan terus beranak pinak.

Catatan Pinggir
Mbojo, 28 Februari 2020