Beranda Pesona Bima Kande; Adab komunikasi Etnik Mbojo

Kande; Adab komunikasi Etnik Mbojo

Ilustrasi

Oleh : Muhamad Yunus A

Frasa kande seringkali saya dengar diucapkan di lapisan masyarakat akar rumput. Pengungkapannya terjadi dalam aneka rupa peristiwa, baik ketika akan melangsungkan sarapan, makan siang dan sore, atau ketika sedang berjalan, ketika akan memulai pembicaraan, ketika hendak bertanya, maupun pada ragam peristiwa lainnya. Biasanya terlontar kata-kata seperti ini: kande ja pu lenga mu aka ni ana, kande ja pu ama mu aka ni ana, kande ja pu iwa mu aka ni ana, kande ja pu amancawa mu aka ni ana, kande ja pu amania mu aka ni ana dan seterusnya.

Didalam jantung kesadaran dou Mbojo, frasa “kande” masih hidup merimbun dan menjalar mengisi segala ruang kehidupan yang membatin. Saya sendiri sejak kecil dahulu ikut tumbuh dan mengakrabinya. Pengungkapan “kande” dalam kehidupan etnik Mbojo mengisyaratkan adanya adab memohon, seperti ketika memohon, pamit, permisi, minta izin, minta diri. Kande juga dapat diandaikan sebagai adab komunikasi dalam meminta supaya diberi atau mendapat sesuatu. Kande dapat juga dilekatkan pada panggilan semacam ajakan, undangan, imbauan, atau hal dan perbuatan cara memanggil, menegur dan menyapa.

Kande, Ou ro Rojo

Membaca pengungkapan kande, membuat saya merasa seperti menemukan keterpautan makna antara frasa kande dengan frasa “ou” dan “rojo”. Saya jumpai frasa “ou” dan “rojo” biasanya dilekatkan pada adab berkomunikasi sebagaimana pada pengungkapan “kande”. Hanya saja pengungkapannya disesuaikan dengan konteks peristiwa yang terjadi. Sebut saja begini, kande diandaikan sebagai ungkapan paling halus, paling sopan, paling santun, pucuk atau puncak adab dan basis etik dalam berkomunikasi. Karenanya, Kande bukan hanya menandai adanya adab berbahasa dan berkomunikasi dengan sesama mahluk, namun lebih dari itu kande adalah adab hidup yang mesti dihadirkan dalam berkomunikasi dengan Tuhan.

Sebaliknya frasa Ou lebih sering digunakan di dalam tata hubungan sosial kemanusiaan, atau di dalam tata hubungan dengan sesama mahluk ciptaan Tuhan. Adapun dalam adab berkomunikasi yang dilekatkan pada pengungkapan rojo, biasanya dititik beratkan pada peristiwa tertentu, seperti ketika terjadi kekeliruan, kelalaian dan kesalahan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang. Penggunaan frasa rojo memiliki dimensi yang sama dengan pengungkapan kande dalam konteks komunikasi dengan sesama manusia atau sesama mahluk. Misalnya ketika seorang ibu sedang berjalan dengan anaknya, kemudian meminta anaknya untuk tegur sapa sepupu sang anak, maka di ucapakannya; rojo sai pu ina mu amania mu ana. Tetapi pengungkapan rojo tidak lazim dan tidak patut untuk digunakan dalam berkomunikasi dengan Tuhan.

Secara harfiah ou dapat diberi arti panggil. Misalnya ou pu la unu (panggil si unu), santabe ta ou pu la unu (mohon panggil si unu). Ada juga ungkapan ou yang dilekatkan dengan frasa kawe. Menjadi ou ro kawe. kawe itu artinya melambaikan tangan. Ou ro kawe artinya panggil sambil melambaikan tangan. Selain itu ada ungkapan ou nggao atau ou ro nggao. Nggao dapat diberi arti mengeraskan suara atau meninggikan suara. Ou nggao artinya panggil dengan mengeraskan suara atau meninggikan suara. Biasanya ketika sedang di gunung atau di ladang, ou nggao menjadi pilihan komunikasi yang dianggap tepat dan selaras dengan konteks-medannya. Nggao bisa juga disematkan pada model panggilan dengan suara lantang dan panjang napas serta produksi suara yang dikeluarkan menggema.

Sementara rojo artinya tegur, teguran, menegur. Misalanya rojo ba mori dou, santabe ta rojo ja pu iwa ta mancau ro ncaka aka ni, atau santabe ta rojo pu ina ma doho dei a’u aka. Rojo bisa juga diberi arti tegur sapa, misalnya rojo angi yang artinya saling bertegur sapa. Tegur biasanya biasa diucapkan dalam memberi respon positif pada peristiwa positif, pun pada peristiwa negatif. Sedangkan teguran lebih dialamatkan pada peristiwa negatif, seperti ketika ada orang atau kerabat yang melakukan penyimpangan, maka rojo menjadi penting dilakukan untuk mengingatkan sekaligus meluruskan dan mengembalikannya ke jalan yang benar.

Kande, Do’do ro Sante’be

Kande lazimnya diungkapakan dengan menyelipkan atau memasukkan frasa do’do dan santa’be. Frasa do’do dan santa’be mengisaratkan adanya adab atau etika dalam berkomunikasi, terutama dalam memohon pamit-permisi, minta izin, minta diri. Demikian juga ketika meminta supaya diberi atau mendapat sesuatu. Do’do ro santa’be acapkali diungkapkan ketika ada panggilan semacam ajakan, undangan. Do’do ro santabe bisa juga diucapkan untuk mengawali imbauan, atau hal dan perbuatan cara memanggil menegur-menyapa.

Penggunaan frasa do’do biasanya diucapkan ketika menjalani komunikasi langsung secara pribadi dengan Tuhan. Pun demikian ketika berkomunikasi dengan sesama manusia. Adab atau etika dalam berkomunikasi yang memasukkan frasa do’do mengisyaratkan tingginya derajat kesantunan komunikasi. Sebenarnya penggunaan frasa santa’be memiliki substansi makna yang sama dengan do’do. Hanya saja pengungkapan frasa santa’be biasanya dikhususkan untuk komunikasi ke publik. Misalnya ketika mengumumkan berita duka, atau ketika sedang berjalan melintasi masyarakat yang sedang duduk berkumpul di pinggir jalan serta berbagai peristiwa lainnya.

Sayangnya, kande dalam arti pengungkapan do’do dan santabe sebagai adab atau etika komunikasi yang menghadirkan sisi kehalusan, kelenturan dan kelembutan kian tergerus. Hanya pada tempat tertentu dan oleh pribadi tertentu yang masih mengedepankan adab komukasi yang membatin ini. Penyimpangan pada aspek nilai komunikasi nampak semakin memprihatinkan. Hal ini terlihat pada ragam peristiwa di rumah, di kampung, di sawah ladang, di sekolah, di kampus, di kantor. Hal yang sama juga akan ditemui jika membaca postingan yang berserakan di media sosial. Peradaban hendak dimajukan tetapi pada saat yang sama bahasa dan komunikasi kian kasar dan tak beradab. Kemajuan peradaban, kecanggihan teknologi, kehidupan yang serba mudah, dunia sudah seperti dilipat dalam waktu, ruang, pun budaya. Jiwa manusia bukannya beranjak semakin halus dan tenang, tapi justeru semakin gusar, kasar, bahkan dibaluti kekerasan dalam berbahasa. Dunia digital yang sedang kita nikmati ini adalah berkat sumbangan ilmu eksakta. Sumbangan ilmu pengetahuan yang mengandaikan hidup semakin manusiawi dan berkeadaban.

Ilmu telah memberi arah terhadap kemajuan peradaban manusia sepanjang zaman. Karenanya, Hal yang fundamental dalam mendorong dan menggerakkan kemajuan peradaban, selain kontribusi besar dari ilmu eksakta dan ilmu sosial, aspek yang sangat penting lainnya adalah Ilmu humaniora. Pada titik inilah bahasa menjadi kekuatan penting untuk mengisi, mewarnai, menghidupi dan memajukan peradaban dou labo dana Mbojo.

Adab dalam berbahasa dan berkomukasi, pun pada pilihan frasa dan kekayaan nilai yang terkadung didalamnya mesti disemai kembali. Hal ini penting sekali, oleh karena peristiwa dou Mbojo yang mengucapkan do’do ro santa’be di ruang-ruang publik kian berkurang dan memudar. Sepertinya populasi orang-orang yang berkomunikasi dengan menghadirkan adab perlu dinaikan. Hal ini penting untuk dilakukan terutama untuk menyelamatkan kelangsungan proses transformasi nilai kepada anak-anak yang baru tumbuh dan berkembang diera yang kian kompleks pada saat ini.

Pada tahun 2015 hingga 2017 saya acapkali diajak berjumpa dengan orang-orang dari latar belakang beragam, mulai dari birokrasi, politisi dan pekerja profesional hingga masyarakat akar rumput diberbagai kampung/desa. Dalam perjumpaan itu, biasanya saya memilih sebagai pendengar yang baik, hadir utuh dalam menyimak percakapan. Hal yang membuat saya berdecak kagum dalam setiap pertemuan itu adalah terawatnya adab dalam berkomunikasi, frasa do’do dan santa’be selalu diucapkannya kepada siapa saja yang dijumpai dan berinteraksi saat itu.

Ketika berkeliling kantor dan ruangan di lingkup sekretariat pemda bima atau ruangan di sekretariat dewan, saya mendapatkan suguhan adab dan etika komunikasi yang sama. Dengan mengingatnya, saya berpikir dan merenung dalam-dalam, bahwa beliau sedang memberi kualiah praktis soal adab berbahasa, soal tata cara berkomunikasi dan berinteraksi yang beradab dan beretika kepada segenap orang yang dijumpai, apakah dia dijumpai itu berlatar belakang pejabat pemerintahan atau rakyat biasa dan termasuk saya sendiri diajarinya adab itu dalam ruang yang praktis. Meski tak terjadi model umpan balik yang menunjukan adanya ketinggian adab (tak hadir frasa do’do dan santa’be) dari orang-orang segala kalangan yang berkomunikasi denganya, ia tetap saja menunjukan adab komunikasi yang membatin dengan keluhuran budi pekertinya. Darinya, saya belajar banyak tentang cara hidup di dana mbojo, meski hanya sebagian kecil yang saya sanggupi untuk melaksanakannya, termasuk ajarannya tentang adab komunikasi, kande dalam bentuk pengungakapan do’do ro santa’be.

Kande, Do’do ‘dei Ruma

Untuk melengkapi catatan ini, Saya hendak menelisik pengungkapan kande dengan meminjam ulasan seorang pemerhati sekaligus pegiat Sejarah Mbojo, Fahrurizki dalam artikel yang dimuat halaman mbojoklopedia. Menukilkan dua bait syair Kande Galara Sape yang khusus didendangkan ketika prosesi pengangkatan Sultan yang dikutipnya dari Abdullah Ahmad, demikian yang diungkap, ia yang biasa saya sapa bang Fahru. Begini kata-katanya :

Ruma suu 
Nemba mena lamada ada ta sa dana Mbojo. Duwa mbua kai dodo ku
di ruma Allah Ta’ala makese wara, Nabi Muhammad mancewi taroa bisa ra guna,
morotabat, ruma maese ese mai wau nggasa ro nggari na dana Mbojo malai labo ngasa ro nggari na marawau, jau ra rendu na dana Mbojo malai labo jau ro
rendu na maulu ulu, nde na busi o marada oi, na ngame marada mina, na neyo marada wolo.

Nde dodo ku ndende umu na, naru mori na, ese morotaba na, nae o kuasa na,
Na kidi di doro na madese, donggo na manae ndai ntanda kasaraa. eda kasanai kai na lamada ada ta sa dana Mbojo, na neyo kimpidi oi ndai condo, na ngodu kidi dumu haju ndai kapo, na mango kidi karanggo ndai reko mandai bou mena kai ade lamada ada ta sa dana Mbodjo.

Saya rumuskan terjemahan bebasanya begini;

Tuhan junjunganku
sembah semua saya (kami) hamba se dana mbojo. yang kedua saya memohon kepada Tuhan Allah SWT Yang Maha Esa, Nabi Muhammad yang sangat terang kepandaian dan kecakapan, bermartabat, Tuhan yang di atas-atas segala-galanya sudah berisi dan rimbun dana mbojo berbeda dengan berisi dan rimbunnya yang sebelumnya, melimpah dan melebar-menjalarnya dana mbojo berbeda dengan melimpah dan melebar-menjalarnya yang dulu-dulu, ia dingin melampaui air, ia lembut melampaui minyak, ia ringan melampaui kapas.

Untuk saya mohonkan lama umurnya, panjang hidupnya, besar kuasanya, ia berdiri di gunung yang tinggi, donggonya yang besar untuk dipandang semua-seluruhnya. Melihat untuk menyenangkan-membahagiakan saya (kami) hamba se dana mbojo, ringan air yang tenang untuk diambil, menghijau muda berdiri pucuk pohon/kayu untuk dipetik, kering berdiri lentur untuk melingkari yang mebuat baru hati saya (kami) hamba se dana mbojo.

Disini saya tak akan mengulas secara keseluruhan makna ungkapan diatas. saya hanya akan memberi keterangan sedikit terhadap model pengungkapan kande diatas yang sangat menarik dan membatin. Pada dua bait itu, saya dapati dua kali di ucapkan frasa do’do. Frasa itulah yang menegaskan, bahwa pengukapan itu bukan pengungkapan biasa, tetapi itu adalah model pengungkapan kande. Pada bait pertama frasa do’do diucapkan setelah pengungkapan sembah sujudnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sementara Pada bait kedua langsung diucapkan sebagai permohonan atas segala do’a dan harapan yang dilangitkan olehnya.

Peristiwa ini menunjukan bagaimana adab berkomunikasi dengan Tuhan dengan merendah diri sebagai hamba dan hanya meninggikan Dia. Pada peristiwa pengungkapan kande ini juga mengisyaratkan kepada seorang pemimpin kampung harus memiliki adab, etika dan keluhuran budi pekerti dalam berkomunikasi dan berinteraksi, sebab hal itulah yang akan diteladani serta diikuti arah condongnya oleh masyarakat. Pada saat yang sama, sungguh pengungkapan kande diatas mengisyaratkan kepada segenap pribadi etnik mbojo untuk terus menghadirkan adab, menunjukan dan menghidupkan adab berbahasa dan berkomunikasi, etika berbahasa dan berkomunikasi, serta keluhuran diri dalam berbahasa kepada Tuhan maupun kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan. Hanya dengan bahasa yang beradab dan membatin kita memiliki kesanggupan menyongsong peradaban dou labo dana mbojo yang jaya dan berkemajuan.

Wallahu a’lam

Catatan Pinggir
Mbojo, 26 Februari 2020