Beranda Pesona Bima Nggusu Waru Dou Labo Dana Mbojo

Nggusu Waru Dou Labo Dana Mbojo

Istana Bima Tempo Dulu dengan Lare-lare (gerbang) Istana berbentuk segi delapan.

Oleh : Muhamad Yunus A

Secara harfiah Frasa Nggusu dapat diartikan dengan gugusan, susunan, atau persegi. Adapula yang memberi arti Nggusu sebagai sudut dan sisi. Sementara Waru diberi arti delapan, atau angka delapan. Jadi Nggusu Waru dapat diberi arti sebuah segi atau persegi yang bersisi delepan. Dan dibanyak tempat di dana mbojo, kita dapat temui model bangunan dan motif kain tenun dalam bentuk persegi delapan. Namun pada tulisan ini saya tak akan mengulas model filosofi bangunan dan corak kain tenun.

Pada banyak artikel yang bertebaran di internet, frasa Nggusu Waru banyak diulas dalam “Perspektif Kepemimpinan”. Nggusu Waru acapkali diletakkan sebagai delapan sendi kepemimpinan dana Mbojo. Ada pula artikel yang menggugat dan mengkritik dengan menyebutkan “salah kaprah memaknai Nggusu Waru”. Dan terkait Ciri kepemimpinan Dana Mbojo disarikannya pada artikel lain dengan berpijak pada kitab Jawharat Al-Ma’rif yang berisi 16 butir, cukup menarik hati. Sementara pada tulisan ini saya ingin suguhkan perspektif yang agak berbeda, bukan dalam rangka merawat dogma, tetepi untuk mencairkannya menjadi proses yang dialektis. Sebuah perspektif yang saya sarikan dari teks sastra, artikel ilmiah dan tradisi tutur yang berkembang. Sejatinya apa yang disuguhkan disini memiliki titik taut dengan ulasan-ulasan sebelumnya.

Nggusu Waru Dalam Pencarian

Saya merasa mulai agak mengerti dan tertarik dengan istilah Nggusu Waru semenjak awal tahun 2015. Di tahun itu, Saya memutuskan untuk mulai mencari bahan-bahan rujukan. Namun saya agak kesulitan untuk mendapatkannya, kecuali pada beberapa artikel yang dipublikasikan melalui web dan blog. Sejak tahun itu pula saya mulai bertanya ke beberapa kawan dan bertanya pula ke beberapa orang tua dari latar belakang kampung yang berbeda-beda. Diantara mereka, ada yang pernah mendengar dan mengakrabi istilah Nggusu Waru, ada juga yang tidak.

Di Belo, pada Tahun 2018 dan tahun 2019 saya dapati beberapa orang usia sekitar 30-an, 40-an hingga 50-an tahun yang merasa tak asing dengan istilah Nggusu Waru. Yang membuat saya takjub dan berdecak kagum adalah ketika saya menghabiskan malam di sebuah rumah panggung, duduk diantara kaum terdidik di bangku sekolah dan terdidik di lapangan sosial. Saya mendapat kejutan dari ulasan seseorang yang tak pernah mengenyam pendidikan formal, tak pernah duduk berderet di bangku sekolah serta tak memiliki kesanggupan membaca dan mengenal aksara atau huruf-huruf latin, tetapi ia memiliki kesanggupan memberi ulasan yang membatin dengan cukup fasih, tetang muatan makna Nggusu Waru dalam bahasa ibu (Nggahi Mbojo) tentunya.

Kemudian baru-baru ini sekitar awal tahun 2020. Saya sempat menyiapkan diri mengisi acara diskusi buku dan saya harus membaca ulang buku “Nggusu Waru yang terisa”. Saya sempat menyimpan buku itu di tempat terbuka, dan yang mengejutkan, adalah ketika saya jumpai komentar seorang lelaki tua, usianya lebih dari 60 tahun. Ia berkata; “palasi wara buku na Nggusu Waru, ampo si mpama dou mpa sandake ra ai. matunti na dou Mbojo”, tutupnya. Ia berkomentar demikian setelah sepintas memegang buku, seperti sambil mengenang sesuatu. Buku yang saya simpan ternyata, ia sempat membaca judul disertai membaca riwayat penulisnya.

Ketika saya berkunjung ke sebuah perpustakaan daerah di Kota Bima, saya dapati spanduk yang dipajang di sisi barat dinding ruangan menghadap ke timur. Di dalamnya tertulis; Nggusu Waru filosofi kebudayaan Bima (8 Sendi Kepemimpinan Orang Bima). Adapun pengungkapan isinya dalam bahasa indonesia, mungkin diterjemahkan dari ungkapan nggahi mbojo. begini isinya ; 1) Orang yang berimu, 2) Orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, 3) Orang yang berahlak baik, 4)Dari keturunan terpandang dan di segani oleh rakyat, 5) Memperhatikan kepentingan rakyat, 6) Orang berada, 7) Satu kata dengan perbuatan, 8) Orang yang berani dan tangkas membela rakyat.

Saya tak tahu persis kata-kata itu dirujuk dari mana dan diterjemahkan dari pengungkapan siapa. Saya pun mencari lagi pengungkapan lain, dibeberapa artikel yang bertebaran, ada saya jumpai yang selaras dengan terjemahan diatas yang dipadukan dengan Nggahi Mbojo. Kemudian dalam pencarian berikutnya, ada model pengungkapan lain yang pilihan frasanya berbeda jauh pula, seperti 1) Dou Ma Maja Labo Dahu di Ndai Ruma Allahu Ta’ala Labo Rasul  2).Dou Ma Bae Ade  3). dou ma mbani labo disa 4) dou malembo ade ro nae saba 5). dou ma ndinga nggahi rawi pahu 6). dou ma taho hidi  7). dou ma `di woha dou  8). dou ma ntau ro wara. Selain pengungkapan model ini, masih ada lagi model lainnya.  

Hal ini membuat saya merasa agak samar atas kehadiran konsepsi Nggusu Waru. Namun kemudian saya memilih kesimpulan sementara begini, bahwa pengungkapan “Nggusu Waru” menyimpan keragaman perspektif dan keragaman interpretasi atas nilai-nilai yang hidup dan tekandung di dalamnya. Saya sebut saja keragaman itu sebagai kekayaan. Pada saatnya nanti, entah oleh siapa, dibutuhkan kemampaunan merumuskan titik taut dan menenun makna-makna yang bersemayam di dalamnya.

Nggusu Waru Dalam Sastra

Saya merasa semakin akrab dengan frasa Nggusu Waru ketika mendapatkan buku Nggusu Waru yang tersisa, sebuah novel yang lahir dari seseorang bernama pena N Marewo. Sebuah karya sastra yang menggugah ruang sadar dari kedalaman diri dan kedirian kita sebagai dou Mbojo. Ya Sebuah karya dou Mbojo yang membuat saya takjub, berdecak kagum dan seperti diajak bertamsya ketika membacanya. Saya ingin meminjam pendakuannya, Nggusu Waru disebutnya sebagai “delapan gugusan sifat”. Pun ada imbuhan ma sebenarnya menjelaskan sesuatu, subjek atau super-subejek. Tentang Nggusu Waru, N Marewo mengulasnya seperti ini:

“Kakeknya mengajari untuk menjadi seperti tanah; tabah menghadapi setiap cobaan. Seperti air; menyejukkan. Seperti api yang menghidupkan gairah. Seperti angin yang menyentuh semua sisi penghidupan. Seperti bulan yang menyenangkan sesama mahluk. Seperti matahari yang memberi kehidupan bagi yang lain. Seperti hamparan langit yang memayungi. Seprti laut, mewarnai tapi tak mengubah” (Marewo 2018 : 81-82).

Meski tak disebutkan secara tegas, namun saya mengandaikan muatan yang terkandung dari gugusan sifat alam itu sebagai nilai-nilai nggusu waru. Ya Nggusu waru model ini merupakan ekspresi dari kegeniusan dan keluhuran pribadi yang dengan sadar utuh hadir penuh menyerap dimensi Keluhuran kosmik, dan kemudian diuraikannya ke dalam delapan gugusan sifat yang harus dimiliki dan dihidupi oleh segenap diri.

Delapan gugusan sifat alam, yakni sifat tanah, air, api, angin, bulan, matahari, langit, dan laut adalah juga merupakan delapan gugusan sifat manusia. Gugusan sifat-sifat ini saling memberi, saling mengisi, saling melengkapi dan saling menghidupi satu sama lain. Pada bagian lain diterangkannya seperti ini: Manusia seperti itu dumu dou. Delapan gugusan sifat yang disebut Nggusu Waru yang wajib dipunyai, disikapi dan dihidupi tiap orang ada padanya.

Dan tiap-tiap sifat itu seumpama biji nangka yang ditanam; tumbuh dan berbuah. Seluruh biji dari buah-buah nangka itu ditanam kembali dan berbuah lagi. Begitulah kebaikan dari suatu sifat beranak pinak. Bila dumu dou bersikap tak pantas, seperti itu pulalah pencemaran dan kebusukan berkembang biak, menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Maka dari itu, setiap orang yang pegang amanah yang menyangkut publik, dalam konsep ini wajib mempunyai sifat-sifat Nggusu Waru itu. Bila tidak, bagaimanapun dan sampai kapan pun roda kehidupan tak akan berjalan dan hasil yang diharapkan tak akan dicapai. (Marewo 2018: 40)

Pada sisi yang lain, dumu dou dengan segenap gugusan sifat-sifat yang melembaga padanya memilih menjadi akar yang menopang kehidupan walau tak tak nampak atau tak terlihat dipermukaan, untuk ini dia berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. N Marewo mengutarakannya seperti ini; Dia berpergian begini oleh sesuatu dan lain alasan; memilih menjadi akar yang menopang walau tak terlihat dipermukaan. (Marewo 2018 : 41)

Elaborasi Gugusan Sifat

Yang menarik dari membaca nggusu waru atau delapan gugusan sifat pada pengungkapan (N Marewo) di atas, adalah ketika ia menampilkan Nggusu Waru dari dimensi kosmik atau gugusan sifat-sifat alam yang dipertautkan dengan segenap diri manusia (dou Mbojo). Ia juga menampilkan Nggusu Waru sebagai sifat yang wajib dimiliki, disikapi dan dihidupi dalam menjalankan amanah kepemimpinan, baik dalam bentuk kepemimpinan formal maupun pada kepemimpinan nonformal. Terlebih lagu untuk pemimpin formal, tegas diingatkannya setiap diri itu Wajib memiliki sifat Nggusu Waru, bila tidak, bagaimanapun dan sampai kapan pun roda kehidupan tak akan berjalan dan hasil yang diharapkan tak akan dicapai.

Hal menarik lainnya adalah kita seperti diajak membaca diri sebagaimana pada tanah, air, api, angin, bulan, matahari, langit, dan laut disertai sifat-sifat yang bersemayam padanya. Hal ini mengandaikan adanya harmoni dalam laku membaca delapan gugusan sifat manusia yang harus dimiliki dan dihidupi oleh segenap manusia (dou labo dan mbojo). Gugusan sifat-sifat ini saling memberi, saling mengisi, saling melengkapi dan saling menghidupi satu sama lain.

Dari pengungkapan Nggusu Waru yang disebut Marewo sebagai delapan gugusan sifat yang wajib dimiliki oleh setiap orang itu, mengingatkan saya pada seorang perempuan bernama Sachiko Murata, yang menulis The Toa of Islam dan dibahasannya tentang dualitas ilahi. Saya terpikat dengan pengungkapan dualitas ilahi pada bagian keagungan dan keindahan, ketakjuban dan keakraban. Karenanya, di sini saya hendak membagi delapan gugusan sifat kedalam dua gugusan sifat. Saya Sederhanakan kedalam dua gugusan karakter atau sifat, dan sebut saja sifat jamaliyah dan sifat jalaliyah.

Jamaliyah mengandaikan sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keindahan dan kelembutan. Sifat ini biasanya erat dengan sisi keperempuanan, sisi keibuan yang menawarkan kelembutan, kasih sayang, cinta dan kelenturan dalam banyak sisi kehidupan. Karenanya pada bangunan sifat jamaliah kita belajar dan mengajari diri kita untuk berbagi dengan segenap generasi sepeninggal kita dan berbagi dengan alam untuk menjadi seperti tanah yang tabah menghadapi setiap cobaan. Menjadi Seperti air yang menyejukkan. Menjadi Seperti bulan yang menyenangkan sesama mahluk. Dan menjadi Seprti laut yang mewarnai tapi tak mengubah

Sedangkan Sifat Jalaliyah adalah sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran. Sifat ini biasanya dikaitkan dengan laki-laki dengan dimensi kelelakiaan, keperkasaan dan ketangguhannya. Karenanya pada sifat jalaliyah disini kita mengajari diri kita untuk menjadi Seperti api yang menghidupkan gairah. Menjadi seperti angin yang menyentuh semua sisi penghidupan. Menjadi seperti matahari yang memberi kehidupan bagi yang lain. Dan menjadi seperti hamparan langit yang memayungi.

Pada sifat-sifat kosmik itu kita dapat menemukan wajah kita dimana, sifat mana yang lebih dominan kita hadirkan dalam segala sisi hidup kita ditengah alam dan masyarakat. Secara kasat mata, dou Mbojo menampilkan sifat keras dalam arti keperkasaan, keagungan, kebesaran. Hal ini dapat kita jumpai pada arsitektur dan pada segala jenis makanan dan munuman. Lidah dou mbojo cukup maskulin, terbiasa dengan jenis makanan yang rasanya dalam nggahi mbojo disebut “pa’i ro piri, ngonco ro maci”. Rumah panggung pun tiangnya memiliki penyangga (ceko), keberadaan ceko sebagai penyangga seperti mengisyaratkan lelaki perkasa yang berdiri sambil meletakkan tangan pada pinggang (tuki roka) dengan ketangguhan nilai-nilai dan banyak hal lainnya.

Sementara pada aspek jamaliyah sebenarnya nampak tak terlalu menonjol. Mungkin ini terjadi karena label keras lebih nampak ketimbang sifat lentur, halus dan lembut dou Mbojo. Pada banyak sisi, saya memasuki sisi kedalaman dou Mbojo sangat halus, lembut, lentur dan penuh kasih. Hanya saja tertutupi keperkasaan, keagungan, kebesaran yang menyejarah. Yang menariki pada pengungkapan delapan gugusan sifat (Nggusu Waru) yang diletakkan oleh N Marewo justeru menampilkan sifat yang hidup dalam pola keseimbangan kosmik, keseimbangan alam semesta, serta keseimbangan hidup manusia di tengah alam dan masyarakat. Hal ini di perkuat dengan sikap “memilih menjadi akar yang menopang walau tak terlihat dipermukaan” (Marewo 2018 : 41)

Akhirnya kita masih harus terus belajar dan mengajari diri kita, serta berbagi dengan segenap generasi sepeninggal kita dalam balutan keluhuran diri untuk menjadi Diri yang utuh, yakni menjadi pribadi dan masyarakat manusia yang tabah menghadapi segala cobaan, menjadi yang menyejukkan, menjadi yang menyenangkan sesama mahluk. Menjadi yang mewarnai tapi tak mengubah. Menjadi yang menghidupkan gairah. Menjadi yang menyentuh semua sisi penghidupan. Menjadi yang memberi kehidupan bagi yang lain, serta menjadi pribadi dan masyarakat yang memayungi.

Nggusu Waru Dalam Filsafat

Pada bagian ini, saya merasa penting untuk mengawali, bahwa model pengungkapan ini berbeda lagi dengan pengungkapan sebelumnya. Nah tentang Nggusu Waru dalam filsafat, saya ingin mengulasnya dengan bepijak pada pengungkapan Dr. Ahmad Badrun, M. Hum dalam artikel ilmiahnya yang diberi judul “Filsafat Nggusu Waru dalam Tradisi Lisan Bima dan Relevansinya dengan Ciri Kepemimpinan Modern”. Hal ini diteletinya terhitung mulai 1 januari hinggga juni 2008. hasil penelitiannya dipilih menjadi salah satu artikel yang dimuat dalam Jurnal Mabsan yang diterbitkan kemendikbud pada tahun 2008.

Tentu saja ada banyak pihak yang mempublikasikan tentang nggusu waru. Dalam hasil risetnya, Ahmad Badrun mengakui bahwa “tokoh yang mempublikasikan filsafat nggusu waru bukan saja I.M. Saleh (1985) melainkan juga Mahmud Hasan dan Syaifurrahman Salman (2006). I.M. Saleh lebih dahulu mempublikasikan tulisannya dan Mahmud Hasan dan Syaifurrahman Salman mempublikasikan tulisannya (fotokopian) pada tahun 2006. Menurutnya, Kedua versi itu hampir sama. Perbedaanya hanya bersifat redaksional, bukan esensial. Kalaupun ada penggunaan istilah yang berbeda, istilah itu mempunyai makna yang sama dengan istilah lain”.

Ahmad Badrun Merujuk pada filsafat nggusu waru versi I.M. Saleh, Ia menyuguhkan sebuah sudut pandang yang menjelaskan bagaimana relevansi isi filsafat Nggusu Waru dengan ciri kepemimpinan modern dan penyebab masyarakat Bima melupakan filsafat Nggusu waru. Pembahasannya dilakukan dengan metode semiotik. Adapun Hasil kajiannya menunjukkan bahwa 8 butir filsafat Nggusu Waru mempunyai nilai yang sama dengan ciri kepemimpinan modern, yaitu;

(1) matoqa đi Ruma labo Rasu (yang taat kepada`Allah dan Rasul) adalah sama dengan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, (2) maloa ro þade ‘yang pandai dan cerdas’ adalah sama dengan berwawasan luas, (3) mantiri nggahi kalampa ‘yang jujur dalam melaksanakan tugas’ adalah sama dengan kejujuran, (4) mapoda nggahi paresa ‘yang mampu menegakkan kebenaran’ adalah sama dengan adil, (5) mambani ro disa ‘yang bertanggung jawab dan berani’ adalah sama dengan berani menanggung risiko, (6) matenggo ro wale ‘sehat jasmani dan rohani serta kuat’ adalah sama dengan sehat jasmani dan rohani, (7) maþisa ro guna ’berwibawa dan sakti’ adalah sama dengan berwibawa atau berpengaruh, dan (8) londo dou taho ‘keturunan orang baik-baik’ adalah sama dengan bermoral baik.

Baginya Filsafat Nggusu waru tidak lagi populer karena masyarakat Bima kurang apresiatif terhadap tradisi lisannya. Sementara Filasafat Nggusu Waru adalah warisan tradisi lisan yang mempunyai nilai yang relevan dengan ciri kepemimpinan modern. Relevansi itu harus dilihat dalam makna yang luas. Ciri pertama pada dasarnya adalah sama dengan kepercayaan atau percaya pada Tuhan; ciri kedua adalah sama dengan berwawasan luas; ciri ketiga adalah sama dengan kejujuran; ciri keempat adalah sama dengan adil atau keadilan; ciri kelima adalah sama dengan berani menanggung risiko; ciri keenan adalah sama dengan sehat jasmani dan rohani; ciri ketujuh adalah sama dengan berwibawa atau berpengaruh; ciri kedelapan adalah sama dengan bermoral baik.

Ia juga menerangkan bahwa Kedelapan ciri itu sejajar dengan pemikiran ahli kepemimpinan sifat dan relevan dengan nilai kehidupan modern yang kita jalani sekarang. Dalam kesimpulannya, Ahmad Badrun mengungkapkan Filsafat Nggusu Waru terlupakan oleh masyarakat etnik Bima karena tidak adanya kesadaran apresiatif masyarakat, khususnya genarasi tua atas tradisi lisan. Katanya, Hal itu disebabkan terlalu praktisnya cara berpikir masyarakat etnik Bima. Untuk itu, mulai saat sekarang masyarakat etnik Bima perlu menggali kembali Filsafat Nggusu Waru agar identitas itu dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya, demikian harap Dr. Ahmad Badrun.

Saya pun memiliki harapan serupa. terhadap segala berbaur dogmatis perlu diretas dengan jalan dialog. Saya berharap ada proses menghidupkan makna dari nilai-nilai keluhuran ungkapan-ungkapan nggahi mbojo. Saya pun menghendaki adanya dialektika yang mendewasakan dou labo dana Mbojo. Semoga jalan kearifan dan keluhuran dapat ditempuh bersama oleh dou labo dana Mbojo. Apakah mungkin menuju ke sana?

Wallahu a’lam

Catatan Pinggir
Mbojo, 25 Februari 2020