Beranda Pesona Bima Fi Tua, Ajaran Etik Dou Mbojo

Fi Tua, Ajaran Etik Dou Mbojo

ilustrasi

Oleh : Muhamad Yunus A

27 desember 2019, kepada Dr Abdul Wahid, saya bertanya soal tulisan dengan judul “sejarah literasi islam di bima” yang saya dapati dari postingan teman di beranda media sosial. Dengan memanggil ingatan dari memorinya, ia yang biasa disapa bang abadu wahid menjawab “Kayaknya tulisan hipotetik saya di facebook. dan sekarang sedang saya revisi bagian tentangg genealogi fi tua karena beberapa data baru yg saya temukan”.

Saya besok ada di bima, jika ada waktu kita diskusi di kalikuma ule malam minggu? lanjutnya dengan nada bertanya. “Saya mau diskusi khusus fi tua” terangnya.

Kemudian saya pun dimintai dan ditunjukinya sebagai salah satu pemantik ngaji fi tua. Saya amini tapi disertai rasa ragu dan tak menyangka akan seserius itu ajakannya. Merasa bahwa diri saya awam untuk mengulas fi tua, membuat saya semakin tidak yakin dapat menjadi pemantik sesuai harapnya.

Tak patah arang, dengan menyadari keterbatasan kemampuan diri, saya pun bertanya tentang fi tua dan muatan yang tekandung didalamnya kepada segenap kawan kerabat.

Saya dapati jawaban yang menandai adanya ketertutupan untuk berdialog dan kecenderungan untuk merahasiakan fi tua.

Ajaran Rahasia

Ada klaim dan anggapan bahwa fi tua adalah sebuah ajaran rahasia yang harus dirahasiakan. Saya menangkap kesan adanya elitisme dalam mempelajari beragama ala ajaran fi tua. Sebab fi tua hanya bisa dipercakapkan di ruang tersmbunyi dan tiada boleh disampaikan di ruang publik, di tempat terbuka, serta tidak boleh kepada sembarang orang.

Oleh karena fi tua terlanjur diyakini sebagai sesuatu yang cenderung rahasia dan dirahasiakan, maka ajaran fi tua dan segala yang terkandung didalamnya harus mereka sembunyikan. Dan dengan meyakini fi tua sebagai ajaran rahasia, maka ketika dipercakapkan secara terbuka, diyakini akan menghadirkan akibat buruk untuk mereka di mata gurunya, juga akan berakibat pada “ca’ba” (tak bertuah) rahasianya. Dari sini dapatlah dikatakan bahawa para penganut fi tua memiliki kecenderungan untuk mengandaikan fi tua sebagai relitas yang serba rahasia.

Realitas Rahasia Dalam Filsafat

Disisi lain, yang saya jumpai dalam tradisi filsafat, rahasia hanya berada pada puncak realitas, yakni realitas infinitum. Realitas dalam tradisi filsafat digambarkan sebagai sesuatu yang berlapis, yang tersusun dari level yang paling rendah hingga ke realitas tertinggi. susunan realitas bersifat piramida dan rahasia tentu saja dimasukan ke realitas puncak.

Adapun lapisan reliatas itu, yakni realitas empiris, metaempiris, trans-metaempiris, dan infinitum.

Disinilah kita dapat jumpai setiap tindakan realitas memiliki status ontologisnya sendiri. Misalnya realitas “empiris” menggambarkan data yang bersifat persepsi inderawi, kemudian realitas “metaempiris” menggambarkan data rasional-logis, sementara pada realitas “trans-metaempiris” mewakili realitas eksistensial dan intuisi, dan pada realitas “infinitum” mengandaikan entitas “yang tak terhingga” transendental, mistikal, dan mysterium.

Meminjam pendakuan Mohd. Sabri AR dalam ulasannya tentang kitab suci dan filsafat mistik, “ranah kajian filsafat mistik Islam, kitab suci Alqur’an diyakini sebagai Titah Kudus Tuhan yang melintas secara emanative dari realitas infinitum dan Yang Ilahi melalui proses transmisi dari sunyi-senyap yang mutlak ke bunyi transendental, dari bunyi ke texere dei (teks-teks “langit”), dari texere dei kemudian terlontar ke dalam jantung suci Sang Nabi Muhammad Saw, lalu dituturkan dalam “bahasa kaumnya”, lalu proses literasi berbahasa Arab untuk kemudian dimapankan dalam bentuk kitab”.

Jadi dari keterangan diatas keberadaan Kitab Suci Al-qur’an mengalami proses dari sunyi-senyap ke bunyi, dari bunyi ke teks-teks langit dan dari teks-teks langit kemudian terlontar dalam jantung suci yang dituturkan dalam bahasa kaumnya (bahasa arab).

Dengan bersandar pada konstruksi realitas rahasia dalam tradisi filsafat diatas, dapatlah dikatakan bahwa terjadi kekeliruan yang diwariskan secara turun temurun manakala fi tua diandaikan sebagai realitas rahasia seutuhnya.

Semestinya sebuah realitas dikatakan realitas rahasia hanya ketika realitas itu tiada lagi bunyi, bayangan, huruf dan kata-kata yang bisa mewakili. Namun sesuatu yang dianggap rahasia ketika masih bisa diucapkan secara ferbal, atau masih bisa dibayangkan, dipikirkan, dan dirasakan maka itu bukanlah rahasia.

Mengilmui Fi Tua

Sudah saatnya beranjak dari salah kaprah soal rahasia kepada ilmu. Kitab-kitab lama sudah harus dibongkar, dibedah, dibaca dan dihidupkan lagi makna-makna yang terkandung didalamnya. Sehingga ajaran Fi tua benar-benar menjadi sumber etik. Sebuah Ajaran yang menjadi pegangan moral dan etik dou mbojo.

Jika Fi tua dapat diandaikan sebagai filsafat lokal yang mengekspresikan nilai-nilai kuluhuran dan kearifan etnik mbojo. Maka Fi tua dapat juga diandaikan sebagai mata air kearifan lokal yang bersumber langsung dari Tuhan, dari Manusia, dari Al-qur’an dan bersumber dari alam.

Fi tua lahir dari hubungan dialektis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya dan sesama, manusia dengan al-qur’an serta manusia dengan alam. Pada titik inilah fi tua telah dan akan menjadi basis etik pandangan hidup sepanjang dapat terjaga jika senantiasa disemaikan dalam kehidupan sosial keagamaan dan sosial cultural etnik mbojo.

Sebagai ilmu, fi tua sudah dan akan terus mengisi tumbuh kembangnya ilmu sosial, eksakta dan humaniora. Sebab ilmu-ilmu itulah yang mewarnai dan menggerakkan kemajuan kehidupan peradaban dou labo dana mbojo.

Fi tua juga telah melintasi jalan panjang, berjumpa dengan kebudayaan-kebudayaan besar dunia seperti kebudayaan yang datang dari india, arab dan timur tengah maupun kebudayaan modern yang datang dari eropa. Selain kebudayaan besar dunia, tentu saja kebudayaan periferi juga masuk mewarnai dana mbojo.

Semisal pada kebudayaan material seperti gendang, gambus dan bioala yang mewakili tiga arus kebudayaan besar dunia. kita jumpai telah berubah wajahnya, menjadi menyatu dalam wajah kebimaan yang khas baik dari bentuk maupun pada tatacara memainkannya. lihatlah bagaimana pembuatan biola dan permaian biola dou mbojo. Pada titik inilah fi tua mendapati bentuk dan corak yang khas mewarnai dana mbojo sebagai taman sari peradaban.

Islam memiliki universalitas nilai, ia masuk dalam jantung kehidupan dou mbojo. Nilai-nilainya tetap berada pada balutan kearifan-keluhuran fi tua. Bahan baku fitua adalah bersumber dari ajaran islam yang diandaikan sebagai syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Sehingga ketika ajaran itu disuguhkan didana mbojo, tetap saja subjek dou mbojo memiliki kemampuan mengadaptasikan segala model ajaran yang masuk kedalam jantung kehidupannya.

Pada kenyataan lain saat ini, Saya dapati semacam ada jejak kecenderungan untuk melanggengkan bangunan sikap elitisme spiritual yang membonsai Fi tua atau boleh jadi sebaliknya elitisme fitua sebagai ekspresi spiritualitas-kegaamaan dou mbojo.

Seperti pada kisah, bahwa ada dua orang bima yang tinggal dan hijrah, kemudian terucaplah dari kalimat seperti ini; “nggomi ma lao labo tiwi ro loa, nahu ma midi la’bo ‘bisa ro guna”. dou ma loa, dilekatkan atau disandang oleh orang berilmu atau memiliki kecalapan intelegensi. Sementara Dou ma ‘bisa ro guna dilekatkan pada kepada orang yang sakti mandra guna. Fi Tua acapkali diandaikan sebagai ajaran kesaktian. Atas dasar itu pula fi tua dirahasiakan dan tidak akan ditransformasi kepada sembarang orang, disembarang tempat dan waktu.

Sudah saatnya kita meletakkan FI TUA Sebagai sumber “keluhuran purba” etnik mbojo. Dan kedepan, kita akan dapati khasanah fi tua tidak lagi menjadi serba rahasia, tetapi ajaran fi tua dapat kita jumpai sebagai sumber keluhuran purba berupa ajaran etik sekaligus kekayaan intelektual dou labo dana mbojo.

Wallahu a’lam

Catatan Pinggir
Mbojo 2 Januari 2020