Beranda Pesona Bima Ngupa Mori, Ngupa Ngaha

Ngupa Mori, Ngupa Ngaha

Muhamad Yunus

Oleh : Muhamad Yunus A

Judul ini sangat akrab ditelinga dou mbojo. Bahwa setiap pribadi butuh hidup dan butuh makan. Karenanya cari hidup sejatinya untuk menghidupi serta cari makan untuk dimakan. Hal ini telah dijalani sepanjang hidup dan menjadi kharusan untuk diwujud-nyatakan sebagai sikap hidup dalam mengarungi bahtera kehidupan di muka bumi.

Pilihan cari hidup dan cari makan sangat beragam. Pilihan ini akan sangat ditunjang oleh potensi kecerdasan yang bersemayam dalam diri. Kecerdasan berpikir, kecerdasan merasa maupun kecerdasan bersikap dan bertingkah laku adalah model kecerdasan yang akan saling melengkapi dalam menjalani proses ngupa mori ro ngupa ngaha.

Ngupa Mori

Ngupa mori adalah salah satu model filosofi hidup dou mbojo. Pada Ungkapan ini, saya menangkap kesan bahwa frasa “ngupa mori” ini “cukup canggih” jika dipilih sebagai sikap batin dou mbojo. Ketika saya mendengarnya diucapkan oleh dou mbojo yang terdidik dilapangan sosial dan tidak sempat mengenyam pendidikan formal, pun demikian ketika diucapkan oleh yang terdidik dibangku sekolah formal, saya terkesima. Juga saya sering mendengarnya dari mereka yang hendak merantau. Saya merasakan seperti adanya upaya pencarian sungguh-sungguh atas makna hidup yang sejati.

Ungkapan ngupa mori seperti mengandaikan sebuah pencarian kehidupan yang sejati. Ngupa artinya cari, dan mori artinya hidup. Jadi ngupa mori adalah cari hidup atau mencari kehidupan yang sejati, kehidupan yang bahagia dan sejahtera, serta selamat dan penuh cinta kasih yang dibaluti keberkahan hidup.

Ketika saya bertanya kepada kawan-kawan yang akan berpergian di kota-kota lain, “mana’e lao tabe kamane ?” Dijawabnya “lao losa rasa, lao ngupa mori aka rasa dou kamane”. Dari sini saya membayang mori (hidup) yang diimpikan oleh mereka yang hijrah atau merantau ke negeri orang, bahwa sesungguhnya yang mereka cari bukan sekedar mencari makan dan minum. Tetapi mencari hidup atau kehidupan. Dan sesungguhanya hidup dan yang maha hidup adalah Tuhan.

Jadinya saya menangkap makna ngupa mori dou mbojo adalah ngupa Ruma. Sebab Ruma adalah Al Hayat (hidup) itu sendiri. Sungguh dalam dan agung pikiran dan renungan para leluhur terdahulu, hingga memproduksi kata dari kedalaman batinnya dan mengungkapkan makna lahir batin dari hidup dan kehidupan.

Ngupa Ngaha

Tentang ngupa ngaha, saya seringkali mendengar ungkapan ini diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, di rumah-rumah atau di kampung-kampung. Jika hendak diartikan secara harfiah, ngupa artinya cari, sementara ngaha artinya makan. Jika digabungkan arti ngupa ngaha menjadi cari makan.

Bertebaranlah di muka bumi mencari makan. Tentu saja yang dicari adalah dengan jalan mendatangi sumber makanan yang baik dan menyehatkan. Oleh dou mbojo disebutkan malu’u ro ma losa ededu ma taho. Lao dei ndi ngaha ro nono ma taho ro ncihi.

Turu ngupa ngaha dilarang, tetapi ngupa ngaha ra turu kai, itu dianjurkan. Turu ngaha, dilarang, sementara ngaha ra turu kai ro ra ka ake kai, dianjurkan.

Ntadi ro ntedi, kanggihi ro kanggama adalah cara hidup yang banyak dipilih oleh dou mbojo. Sumber utama makanan pokok dou mbojo adalah lewat bertani dan beternak. Ada banyak pula pilihan cara hidup lainnya yang dipilih dou mbojo. Namun yang lebih dominan adalah mereka yang bertani dan beternak.

Ngupa ngaha ra turu kai, mengandung pesan untuk mencari makan dijalan yang baik dan benar. Nilai-nilai kehidupan yang suci, benar dan baik mesti menjadi pegangan dalam mencari makan. Sebab pada makanan yang baik akan menghidupi kebaikan pada segenap darah daging kita.

Sebaliknya pada makanan yang didapatkan dengan jalan yang tidak baik dan tidak benar, akan menjadi petaka, keburukan, ketidakbenaran tumbuh bersama darah daging kita. Emosi negative berpangkal dari makanan dan minuman yang tidak baik dan tidak benar. Hal ini sekaligus menggambarkan pikiran yang tidak benar dan hati yang tidak baik adalah pangkal dari kelamnya hidup.

Maka carilah hidup disertai sikap lahir dan sikap batin dalam mencari makanan dan minuman dari yang baik-baik dan menyehatkan untuk menjaga kesucian dan kesehatan diri. Sebab kesucian diri akan mendekatkan dengan yang Maha Suci. Kesucian diri akan membimbing pada keinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran. Dumu dou atau pucuk manusia dalam khasanah mbojo, dengan kesuciannya membentuk keseluruhan tentang diri yang secara asasi dan prinsipil lahir dan batin.

Ruma Nawa

Secara harfiah, ruma berarti tuhan dan nawa berarti nyawa. Dari sini ruma nawa dapatlah diartikan tuhan nyawa atau nyawa tuhan. Tetapi pada catatan ini, yang dimaksud ruma nawa adalah biji padi. Sebab, bagi dou mbojo, padi diandaikan sebagai ruma nawa. Ungkapan ini seperti hendak menghadirkan spiritualitas dalam memaknai biji padi.

Bukankah hidup tak berlanjut jika tak ada penyambung hidup. Penyambung hidup itulah biji padi yang kelak jadi beras dan dimasak menjadi nasi, kemudian dikenalkan sebagai ruma nawa. Adanya ungkapan padi sebagai ruma nawa adalah hadirnya perlakukan penuh rasa hormat kepada biji padi atau mungkin lebih dari itu, yakni memberi penghormatan kepada yang maha memiliki padi dan tiada putus mengurus mahluk-Nya. Karenanya, ketika biji padi dihambur-hamburkan, dibuang, diabaikan atau disia-siakan, maka itu merupakan perlakuan tercela.

Melindungi, menjaga, mengurus dan memberi perlakuan yang patut kepada biji-biji padi dianggap sebagai ekspresi sikap luhur, penuh kearifan, penuh penghormatan dan sikap menghargai hidup. Berkat asupan makanan yang pokok seperti pada biji padi yang menjadi beras dan dimasak menjadi nasi itu sehingga segenap diri dapat menyambung hidup, masih bisa bernapas dan berkekuatan.

Memberi dan menghidupi makna atas pesan yang penuh luhur kepada biji padi sebagai ruma nawa bagi dou labo dana mbojo, adalah mengandaikan sebuah kesadaran kosmik, kesadaran atas relasi kosmik. Sebuah kesadaran yang telah lama hadir dan bersemayam dalam dalam batin kesadaran kedirian dou labo dana mbojo.

Hal ini juga seperti menggambarkan sikap batin dou mbojo yang bersungguh-sungguh untuk berupaya menangkap makna pada Tajjali Tuhan atau penampakan Tuhan. Hal ini juga membawa konsekuensi harmoni, keserasian dan keselarasan hidup antara ciptaan dihadapan Sang Pencipta.

Seperti pada ungkapan mori nawa, jika diselami lebih dalam, maka batin kesadaran akan menyingkap pembatas untuk menunjukkan tajjali Tuhan pada hidup dan nyawa. Bahkan Hidup itu sendiri adalah Tuhan, sebab hanya Dia yang Hidup dan Maha Hidup.

Wallahu a’lam

Catatan Pinggir
Mbojo, 15 Februari 2020