Beranda Pesona Bima Mori Nawa

Mori Nawa

ilustrasi

Oleh : Muhamad Yunus A

Tentang judul ini, saya merasakan hadirnya kecanggihan yang berakar kuat dari kegeniusan dan kearifan dou mbojo. Disini terlihat bagaimana kecerdasan dalam menikah-kawinkan frasa atau dualitas realitas menjadi utuh dalam satu. Seolah frasa ini satu, padahal frasa ini terdiri dari dua hal yang berbeda.

Namun acapkali frasa ini diucapkan sebagaimana tertulis pada judul, yakni diucapkan dengan urutan kata mori nawa, adapula yang diucapkan sendiri-sendiri dan dipasangkan dengan kata yang lain, seperti ruma nawa dan mori ro woko dll, tergantung sungguh pada konteks peristiwa yang mengikutinya.

Misalnya seperti pada seseorang yang tertimpa musibah banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi atau peristiwa lain semacam itu, Dou Mbojo akan mengucapkan kata mori nawa. Mori nawa na dou aka, mori nawa mu lenga. Mori nawa mu anae, mori nawa ta ama, mori nawa ta ina, mori nawa ta amancawa, mori nawa ta amania, dst. Demikian ungkapan yang biasanya terucap dari seseorang yang menyikapi peristiwa kehidupan.

Demikian juga pada seseorang yang mengalami kecelakaan atau terjatuh dari atas pohon dan terselamatkan, akan hadir ungkapan mori nawa. Atau pada pada seorang ibu yang baru melahirkan, akan diucapkan juga mori nawa; Mori nawa na dou aka, mori nawa mu lenga. Mori nawa mu anae dst.

Adapun pengungkapan made nawa memiliki makna lain lagi. Made artinya mati, nawa artinya nyawa. Namun made nawa dalam ungkapan ini bukanlah mati nyawa. Tetapi yang dimaksud made nawa disini adalah sebuah peristiwa yang menandai adanya diri yang tenang jiwanya, jauh dari emosi dan amarah.

Mori Nawa dalam Kisah Tutur

Apa sesungguhnya makna mori nawa? Secara generic Mori dapat diberi arti hidup. Sementara nawa artinya nyawa. Tentang hidup dan nyawa, saya ingin menyuguhkan cerita yang pernah dikisahkan oleh seorang kawan kepada saya. Begini katanya;

Wara ku dua dou ma sodi cambe angi. Sia doho dua ede ngara na la bima labo la mbojo.

Sodi ba la bima : au mawara sawatipu wara na pidu lapi langi ro pidu lapi dana. Ro au ma wara sawatipu wara na au-au ?

Cambe ba la mbojo : ma saramba wara sawatipu wara na pidu lapi langi ro pidu lapi dana ro sawatipu wara na au-au ede’du Mori.

Ndi bade mena ta, ini ratu riwu mba’a sawatipu wara dana labo isi na, ro mbuipu rindi ka ki ai akana, na wa’u ra wara Mori kese na. ade kese kai na, na lingi ro balingo ma wancu ncewi na.

Nta’a ede, nggahi lalo Mori : Nahu si ada, tabe Ruma ? Nahu si Ruma tabe ada ku. Nggara ndede nahu Ruma, pala tabe ku ada ndi ma nemba nahu?.

Wontu lalo eli ma nggahi : oe mori ! nemba pu nahu. Nahu Ruma mu. Ba ringa ro bade na eli ede, rojo lalo ba Mori, nggahi kandake na : oe nawa ! losa pu nggomi ro ngupa pu nahu, ro ma raka si nahu, nggomi ndi Ruma ku ro nahu kanemba ku nggomi. Pala nggomi watisi raka mu nahu, nahu Ruma.

Ringa na nggahi ede, nawa losa ngupa na Mori ma wati wa’u ndi raka. Wontu lalo wali eli ringa ba nawa, pehepu ngara nahu, nahu ma pehe ngara mu. Ringa na nggahi ede, nawa raka iu ro bae lalo iu na, nta’a mpa ra nemba na, ro suju ro mbo’o na. pehe ba sia (nawa) wati wara ruma ndi nemba ma laisi Ruma. Cambe ba mori : mahama ede kau kai ba Ruma.

Na wa’u ra taroa. Bune si ntika Mori na ngganta ku nawa. Nawa na ngganta ku Mori.

Mori Nawa Dalam Kitab Pengenalan Diri

Setelah saya telurusi kisah diatas dalam beberapa kitab. Sepertinya kisah diatas ada kemiripan dengan riwayat dalam kitab pengenalan diri yang beredar luas di dana mbojo. Mungkin benar bahwa kisah itu diadaptasi dalam nggahi mbojo yang dipetik dari sebuah riwayat dalam kitab pengenalan diri itu. Didalam kitab itu, Saya dapati riwayat. Ada dua waliullah yang melangsungkan tanya-jawab, ialah Syeh Abdul Qadir Jailani dan Sultan Auliyah Mukarramah.

Bertanya Syeh Abdul Qadir Jailani : Wahai saudaraku, apakah yang pertama ada sebelum ada tujuh susun langit tujuh lapis tanah? Yang artinya belum ada sesuatu.

Jawab Sultan Auliyah Mukarramah : Yang pertama ada sebelum alam semesta beserta isinya ialah Al-Hayat (Hidup). Ketahuilah kira-kira 600.000 tahun sebelum alam tercipta, keadaan masih gelap gulita pada saat itu sudah ada Al – Hayat (Hidup) tunggal.

Kemudian hidup berkata : kalau aku Hamba, manakah Tuhan. Kalau aku Tuhan manakah Hambaku ?

Nah, kalau demikian Akulah Tuhan. Tapi manakah Hamba yang akan menyembah kepadaku ? tiba-tiba suara berkata : Hai hidup sembahlah aku. Aku Tuhanmu. Dalam hal ini Hidup mendengar dan mengetahui suara itu, lalu ditegurnya seraya berkata : Hai Nyawa ! keluarlah engkau dan carilah aku, dan bila engkau dapat menemukan aku, maka engkaulah Tuhanku dan aku akan menyembah padamu. Tetapi bila engkau tidak mendapatkan aku, maka akulah Tuhan Allah.

Mendengar ucapan itu Nyawapun keluar mencari hidup yang tidak mungkin ditemukan. Kemudian Nyawa mendengar suara itu : sebutlah namaku dan aku akan menyebut namamu. Setelah Nyawa mendengar suara itu, diapun sadar, lalu menyembah dan bersujud serta mengucapkan kalimat : Asyhadualla ilaha ilallah. Kemudian Hidup menjawab : Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Jelaslah sekarang Al – Hayat (Hidup) itu adalah Zat Allah SWT, dan Nyawa Itu Muhammad. Olehnya martabat Waliullah : “Hidup dikandung Nyawa dan Nyawa dikandung Hidup” .

Dari kisah dan riwayat diatas, dapatlah dikatakan bahwa makna dari ungkapan mori nawa adalah hidup yang dikandung nyawa dan nyawa dikandung hidup. Mori nawa hubungan saling mengandung. Mori nawa adalah ditandai dengan menghadirkan sikap kebersyukuran lahir batin untuk mengabdikan dan mengorientasikan atau menghadapkan segenap “hidup dan nyawa” secara totalitas hanya kepada Tuhan Allah SWT yang Maha Hidup dan meladani kekasih-Nya Muhammad saw.

Wallahu a’lam.

Catatan Pinggir
Mbojo, 14 Februari 2020