Beranda Pesona Bima Tradisi “Hanta Ro Kiri Uma” di Desa Sumi Lambu

Tradisi “Hanta Ro Kiri Uma” di Desa Sumi Lambu

Oleh : Sofyan Haris

Hanta Uma artinya mengangkat rumah. Tradisi hanta uma mengisyaratkan adanya peristiwa memindahkan rumah (kiri uma). Tradisi hanta ro kiri uma dilaksanakan dalam bingkai karawi kabuju (aktivitas gotong royong). Tradisi ini masih bertahan dan dilestarikan di desa sumi kec. lambu. Rumah yang diangkat dan pindahkan adalah rumah panggung khas dou Mbojo.

Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum musim hujan, kenapa dilakukan sebelum musim hujan? Karena disamping memindahkan rumah juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki atap rumah yang lapuk dan bocor.

Yang berhajat atau empunya rumah memberi kabar (mbei Haba) lewat pengeras suara di masjid, musholla atau langgar. Hal ini dilakukan setidaknya sehari sebelum dilakukan hanta Uma.

Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari. warga masyarakat datang berbondong-bondong. Mereka dari berbagai kalangan, tua dan muda dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda. suasana keakraban nampak lewat gelak tawa, candaan dan riuh rendah teriakan jenaka mereka.

Tanpa rekayasa, semuanya mengalir secara alamiah tanpa dibuat-buat. Mereka rela meninggalkan aktivitas pribadinya demi memenuhi undangan lisan yang berhajat.

Tahapan Hanta ro Kiri Uma

Dalam tahapannya, kegiatan hanta Uma dimulai dari mematok lokasi dimana rumah tersebut akan diletakkan atau dipindahkan. Selanjutnya kayu panjang sekitar 5-7 meter dengan lebar 7 sampai 8 cm, diikat horizontal diantara tiang-tiang, kemudian barulah kayu-kayu itu di letakkan di atas pundak untuk dipikulnya.

Tahap selanjutnya adalah meminta satu orang tua sebagai pemberi aba-aba dengan hitungan menggunakan kayu untuk dipukul ke dinding rumah agar menghasilkan bunyi yang dimaksudkan untuk menandai bahwa rumah tersebut siap untuk diangkat dan dipindahkan secara serentak (sama hanta).

Makna Hanta Ro Kiri Uma

Apa makna yang terkandung dalam tradisi Hanta ro Kiri Uma?

  1. Sebuah pekerjaan akan menjadi lebih ringan dan mudah bila dilaksanakan secara bersama-sama,
  2. Hadirnya efektikifas kerja dan tidak memakan waktu yang lama.
  3. Terciptanya hubungan yang harmonis antar warga dan penuh kekeluargaan.
  4. Bertahan dan Mengentalnya tradisi gotong royong “karawi kabuju” dikalangan masyarakat ditengah arus kehidupan yang cenderung individualistis dan materialistis.
  5. Mempertahankan kearifan tradisi sebagai warisan budaya yang agung.

Semoga kita selalu mencintai kearifan tradisi yang tumbuh dari kedalaman batin kehidupan dou labo dana mbojo. (*)