Beranda Kuliner Merasakan “Sensasi” Proses Pembuatan Dodol Wera

Merasakan “Sensasi” Proses Pembuatan Dodol Wera

Proses pembuatan Dodol Wera yang cukup terkenal di Bima.

Oleh: Muhamad Yunus, SPd

Bima Bagus, NTB.- Ada sensasi tersendiri dikala saya menyaksikan langsung proses pembuatan kuliner lokal. Keunikan sensasi itu saya jumpai saat pembuatan kuliner kadodo atau dodol di dusun Kiki Desa Nunggi, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dodol yang akrab disebut Kadodo Wera memiliki cita rasa yang khas, unik dan gurih. Bahan utamanya terdiri dari gula merah, beras ketan dan bawang merah beserta minyak goreng.

Pembuatannya dapat dibilang cukup sederhana. Peralatan yang digunakan hanya kuali dan tembilang khusus untuk mengaduk selama proses pembuatan.

Pembakaran kayu kering atau kayu bakar menghadirkan aroma yang khas. Sementara padu padan gerakan tangan dan tembilang menyimpan harmoni gerak yang menakjubkan.

Tahapan pembuatan kadodo wera tak rumit. Cukup siapkan bahan dan peralatan seadanya. Kuali yang digunakan terbuat dari besi/baja. Kuali dicuci bersih dan dikeringkan.

Bawang merah di kupas lalu di goreng. Bawang dan minyak goreng diambil secukupnya untuk dimasukan kedalam kuali untuk dioleskan hingga rata dipermukan kuali.

Kelapa dikupas dan dibelah untuk diparut atau digiling. Usai digiling, kelapa dicampur air untuk diambil santannya. Banyaknya air santan kelapa disesuaikan dengan banyaknya kadodo yang akan dibuat, juga disesuaikan dengan besar kuali.

Beras ketan direndam, kemudian di tumbuk atau digiling. Tepung beras ketan akan sangat menentukan banyaknya gula yang dibutuhkan.

Prosesi yang tak kalah menarik, yakni saat pembuatan tungku api. Tungku api terbuat dari tanah. Tanah digali, dilubangi seluas kuali yang akan digunakan. Untuk pembakaran kayu, digali tepat di belakang lubang penyimpanan kuali, dibuatkan persis seperti terowongan. Sememtara Untuk saluran asap dibuatkan pula lubang kecil dibagian depan.

Kuali diatas tungku api harus dipastikan tak ada celah keluarnya asap disekeliling kuali. Hal ini perlu diperhatikan agar tak mengganggu aroma dan kualitas kadodo. Untuk memastikan asap tak keluar disekeliling kuali, cukup siapkan tanah yang telah dicampur air (tanah basah), diaduk dan diolesi disekeliling tungku api khusus penyimpanan kuali.

Kuali yang diletakan diatas tungku api, dioleskan minyak goreng secukupnya beserta bawang goreng. Masukan tepung beras ketan dan air santan kelapa secukupnya.

Tepung beras ketan yang laurut dalam air santan kelapa di aduk tanpa henti oleh dua orang hingga mendidih dan terlihat matang.

Proses pengadukan harus terus dilakukan dan tak boleh berhenti hingga akhir. Setelah tepung yang nampak memutih dalam air santan kelapa telah matang.

Masukan gula merah yang telah dimasak. Gula merah dimasak hingga encer dan mendidih. Setelah dimasukkan gula merah, air yang memutih dalam kuali tadi akan berubah warna. Warnanya persis seperti warna gula yang telah dilarutkan.

Karena pembuatannya masih alami, prosesnya bisa terbilang cukup lama. Waktunya bisa saja sehari, namun sangat bergantung pada banyak sedikitnya bahan untuk pembuatannya. Biasanya jika pembuatan dimulai pukul sembilan pagi, matangnya memakan waktu paling lama pukul sebelas malam.

Semakin matang semakin berubah dari dekstur dan aromanya. Dari putih beranjak cokelat. Aromanya harum, khas dan enak untuk dinikmati.

Pokoknya enak, unik-khas dan gurih. Bahan terakhir yang dimasukan adalah ampas minyak. Ampas minyak dibuat dari parutan kelapa yang digoreng. Ampas minyak itu kemudian dibubuhi diatas dodol.

Setalah matang, dodolnya siap untuk dicicipi dan dikemas. (*)